Minggu, 06 Desember 2009

SOLUSI PENYEDIAAN AIR BERSIH BAGI PARIWISATA BALI

SOLUSI PENYEDIAAN AIR BERSIH BAGI PARIWISATA BALI

Dr. Ketut Gede Dharma Putra, M.Sc

Universitas Udayana Bali

email: kgdharmap@telkom.net

Pemanfaatan air bersih yang sangat besar untuk sarana akomodasi pariwisata di Bali telah lama menjadi perhatian masyarakat Bali namun belum dapat dicarikan solusi permasalahannya yang terpadu. Ibarat pisau, pariwisata memang telah terbukti memberikan peningkatan perekonomian Bali, namun pada sisi lain dapat membunuh masyarakat lainnya yang menggantungkan diri pada sektor non-pariwisata, khususnya dilihat dari konflik pemanfaatan air bersih yang terus meningkat. Oleh sebab itu, harus segera ditemukan cara yang jitu agar pemenuhan air bersih bagi pariwisata tidak lagi memgakibatkan masyarakat lainnya menderita.

Pariwisata dan air sebenarnya tidak memiliki korelasi secara makna harfiah, namun memiliki korelasi yang sangat erat saat menyinggung sisi peranan penyediaan air bersih bagi pariwisata Bali. Setelah membaca artikel mengenai defisit air di kawasan Nusa Dua dan Kuta (Bali Pos, 15 Oktober 2009), perhatian harus dipusatkan pada faktor ketersediaan (supply) dan kebutuhan (demand). Karena bagaimanapun juga kedua faktor diatas masih sangat relevan dengan kondisi sekarang maupun yang akan datang. Dalam terminologi tentang air bersih secara umum kedua faktor di atas sangat memegang peran penting. Tanda-tanda mengenai krisis air di Pulau Dewata sebenarnya sudah bisa dilihat sejak beberapa waktu lalu dimana masyarakat yang bermukim di sekitar mata air telah mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih. Apabila untuk daerah yang berada di sekitar mata air mengalami kondisi tersebut, bagaimana dengan daerah pesisir yang memiliki “jarak” dari sumber mata air dan memiliki tingkat pemakaian yang jauh lebih tinggi. Untuk itu perlu dipikirkan bersama beberapa solusi tepat guna mengatasi permasalahan klasik ini.

Strategi pengembangan air baku secara komprehensif yang meliputi penyediaan sumber air baku dari air permukaan, air tanah, dan mata air memerlukan terobosan terbaru berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak tahun 1980-an, studi tentang penyiapan air baku di Bali sudah banyak dilakukan, namun hingga kini belum terlihat akan dilakukan implementasinya secara terpadu. Permasalahan penyiapan air baku seolah berpacu dengan pertambahan penduduk Bali, alih fungsi lahan, dan pembangunan sarana dan prasarana pariwisata. Pada akhirnya, apabila tidak segera disiapkan sumber penyediaan air baku yang representatif, maka industri pariwisata akan sangat mudah menjadi kambing hitam yang paling empuk dijadikan sasaran kemarahan masyarakat. Hal ini terjadi karena secara mudah dapat dilihat bahwa pemanfaatan air untuk kepentingan pariwisata Bali terlihat sangat boros. Menurut laporan LP3B (Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Pembangunan Bali), kamar hotel memerlukan 2.000 liter hingga 3.000 liter per kamar per hari (tergantung kelas hotel/resort) dan setiap lapangan golf 18 hole membutuhkan 3.000.000 liter per hari. Padahal pemanfaatan air bersih bagi aktivitas pertanian,khususnya padi merupakan kegiatan yang memerlukan air dalam jumlah yang besar. Belum lagi pemenuhan kebutuhan industri minuman kemasan/botol yang menyedot air tanah dalam jumlah yang sangat besar.

Sambil menunggu komitmen pemerintah untuk memberdayakan potensi air permukaan dari sungai-sungai di Bali yang cukup besar, masyarakat Bali khususnya dunia industri pariwisata tentu tidak bisa berdiam diri terhadap kemungkinan konflik pemanfaatan air bersih menjadi perang terbuka. Walaupun total ketersediaan air permukaan yang masuk ke dalam sistem sungai di Bali mencapai 7.550.893 juta m3/tahun (Dinas PU Bali, 2008), namun keterlambatan penyiapan infrastruktur air bersih (waduk, embung, instalasi pengolahan, dan distribusi) akan memicu konflik yang semakin panas.

Dengan kondisi pemenuhan air seperti ini dan disertai ketidak mampuan PDAM mensuplai kekurangan (shortage) yang diharapkan, penggunaan air tanah dengan sistem deep well pump menjadi pilihan utama pelaku pariwisata di Nusa Dua, Kuta dan Sanur. Khusus mengenai penggunaan air tanah, agar dapat dipertahankan suplai yang berkelanjutan maka perlu dibatasi maksimal 10-30% dari potensi yang ada. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemompaan berlebihan yang mempercepat terjadinya instrusi air laut. Namun hal ini tentunya sulit dilakukan mengingat besarnya keperluan terhadap air bersih. Kebijakan pemerintah daerah Provinsi Bali untuk meningkatkan pajak air tanah hingga mencapai 10 kali lipat dari kondisi eksisting merupakan salah satu terobosan untuk menekan penggunaan air tanah berlebihan dan memacu pihak swasta mencari sumber lain.

Sumur Bio Pori (Sumur Resapan)

Di negara yang telah maju, peningkatan kebutuhan air tidak mengganggu ketersediaan air tanah, hal ini disebabkan oleh beralihnya atau ditinggalkannya sumur-sumur dalam milik pribadi dan berganti kepada sumur dalam yang disediakan oleh instansi tertentu seperti PDAM atau semacamnya yang merupakan bagian dari pemerintah setempat. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di Indonesia, karena kecenderungan apabila kebutuhan terhadap air bersih meningkat, maka jumlah sumur-sumur yang dibuat oleh individu pun makin banyak.

Air tanah yang dikeluarkan dari dalam bumi pada dasarnya sama saja dengan pengeluaran bahan/material berharga yang lain seperti : mineral, emas, batu bara, minyak atau gas. Air biasanya mempunyai batasan yang istimewa, yaitu dianggap sebagai sumber alami yang dapat diperbaharui. Angapan ini perlu kiranya untuk dikoreksi, karena sebenarnya anggapan ini hanya dapat berlaku jika terdapat keseimbangan diantara imbuhan air dengan exploitasi didalam kawasan tangkapan/tadahan air.

Sumur resapan air tanah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan cadangan air tanah, disamping itu manfaat yang sangat berguna adalah dapat mengurangi banjir akibat limpasan air permukaan. Dengan pembiayaan yang (secara relatif) tidak terlalu tinggi, pengadaan sumur resapan ini dapat dilakukan oleh semua pihak yang terkait. Untuk itu diperlukan cooperative will dari semua pihak terkait untuk mengatasi permasalahan ini.

Lubang biopori sangat mudah dilakukan oleh masyarakat umum. Dengan membuat lubang sedalam 30-100 cm berdiameter 10-30 cm, kita telah membuat jalan untuk peresapan air tanah ketika musim penghujan. Idealnya 28 lubang untuk 100 meter persegi. Apabila setiap rumah membuat lubang biopori, maka dampaknya akan begitu besar terutama dalam mengantisipasi banjir dan meningkatkan muka air tanah. Dengan sosialisasi yang menyeluruh diharapkan program ini dapat mengatasi besarnya debit run off yang terbuang percuma menjadi tampungan air tanah yang mendukung ekosistem.

Pemurnian Air Laut

Pada dasarnya prinsip pemurnian air laut adalah memisahkan garam dari air laut sehingga diperoleh air tawar, proses ini kita kenal dengan sebutan desalinasi. Sejak 1980-an telah dimulai proses pemurnian air laut dengan metode ini. Tentunya dengan berjalannya waktu, biaya yang diperlukan untuk proses ini menjadi lebih murah. Dalam kegiatan pemurnian air laut ini terdapat beberapa metode pemurnian, antara lain:

· Destilasi
Inti dari proses ini adalah memisahkan garam dari air laut sesuai tahapan yang terjadi di alam, yaitu dengan menguapkan air laut kemudian mengembunkan uapnya kembali. Ketika air laut dipanaskan, hanya air yang menguap, garam-garam yang terlarut tetap tinggal dalam larutan. Alat suling bagian dalam wadah perebus air laut dilengkapi dengan pipa-pipa tegak untuk memperluas permukaan air yang dipanaskan. Semakin luas permukaan air maka air yang berhasil diuapkan semakin banyak. Namun proses ini memerlukan energi listrik yang besar sehingga kurang effektif apabila digunakan untuk kasus di Pulau Bali. Karena selain mengalami defisit air, bali juga masih sangat tergantung suplai listrik dari Pulau Jawa.

· Osmosis Balik (Reverse Osmosis)

Osmosis balik atau reverse osmosis (RO), dilaksanakan dengan memberikan tekanan terhadap air laut, sehingga memaksa dari molekul-molekul air murni menembus suatu membran semipermeabel. (sedangkan sisanya berupa garam larut, bahan-bahan organik, bakteri akan tertahan. Kemurnian air yang dicapai hingga 99% dan tingkat produksi yang tinggi. Reverse Osmosis merupakan cara paling murah untuk menawarkan pemurnian air laut. Keuntungan metode ini adalah kemurnian air yang dihasilkan bagus, menghemat tempat,dan menghemat energi.

Dengan semakin banyaknya perusahaan perorangan yang memiliki sistem reverse osmosis ini, diharapkan kebutuhan air bersih dapat di atasi dan kerusakan ekosistem akibat eksplorasi air bawah tanah dapat dihilangkan.

Kearifan untuk Effisiensi

Setelah semua tahapan ilmu dan teknologi selesai dilakukan, hal akhir yang harus dilakukan adalah merubah sikap kita terhadap pemanfaatan air itu sendiri. Himbauan untuk menggunakan air seminimal mungkin merupakan hal klise yang harus dilakukan mengingat semua keterbatasan yang ada. Pihak pelaku pariwisata harus berani untuk menekankan kepada tamu mereka untuk effisiensi dalam penggunaan air bersih. Selain itu, pemerintah melalui departemen yang terkait harus menjaga sumber mata air, daerah penyangga sumber mata air melalui dikeluarkannya peraturan yang mengikat dengan sistem punishment and reward.

Menjaga Daerah Aliran Sungai merupakan tanggung jawab kita bersama,untuk itu semua peraturan yang mengatur mengenai pemanfaatan tata ruang di daerah tersebut harus dapat kita jaga bersama dengan semangat ngegara gunung. Hal ini harus benar-benar kita lakukan dalam menjaga alam, sehingga kita mampu memperoleh apa yang kita inginkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar