Minggu, 06 Desember 2009

EAS Congress 2009

MEMPERKUAT BUDAYA BAHARI MASYARAKAT BALI

DR Ketut Gede Dharma Putra

Universitas Udayana Bali Indonesia

Provinsi Bali sejak tahun 2000 telah ditetapkan sebagai lokasi percontohan dalam penerapan manajemen pengelolaan wilayah pesisir terpadu yang dikenal dengan ICM(Integrated Coastal Management) oleh Programme for Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA). Lembaga yang berkedudukan di Manila tersebut bekerjasama dengan GEF(Global Environmental Facility), IMO(International Maritime Organization) dan UNDP(United Nations Development Programme) setiap tiga tahun mengadakan kongres untuk mengevaluasi pelaksanaan ICM dalam upaya menjaga kelestarian wilayah pesisir dan laut. Pada kongress yang ketiga (EAS Congress 2009) yang dilaksanakan di Manila Republik Filipina tanggal 21 sd 29 November 2009, Dr.Ketut Gede Dharma Putra,M.Sc diundang sebagai pembicara dalam Workshop dengan tema Human Resource Requirement in Coastal and Ocean Governance. Pada kesempatan tersebut, Dharma Putra memaparkan materi tentang strategi penguatan budaya bahari bagi masyarakat Bali dalam upaya pengendalian pencemaran lingkungan pesisir dan laut. Pria yang menjadi Tim Penilai THK Award &Accreditation ini akan menguraikan peran para pihak (stakeholders)dalam memanfaatkan potensi wilayah pesisir dan laut Bali serta perlunya tata kelola yang mengacu pada pendekatan ICM.

Menurut pria yang sering diminta mengkaji dampak lingkungan hidup program pengelolaan wilayah pesisir dan laut ini, masyarakat Bali memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan melalui penguatan budaya bahari. Berbagai potensi wilayah pesisir dan laut sudah terbukti memberikan peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya yang berada di kawasan pariwisata yang sebagian besar berlokasi di kawasan pesisir. Namun potensi yang tersedia belum dikembangkan secara optimal karena hambatan sumber daya manusia Bali yang belum terbiasa dengan aktivitas berbasis bahari.

Dharma Putra yang selalu hadir sejak kongres kelautan pertama di Putrajaya Malaysia (EAS Congress 2003), dan yang kedua (EAS Congress 2006) di Hainan China ini menyarankan agar masyarakat Bali yang selama ini dikenal lebih berorientasi pada budaya daratan (landbase culture) harus mulai memperkuat budaya kebaharian (marinebase culture) untuk bisa berperan dalam mengisi pembangunan di wilayah kepulauan nusantara yang sebagian besar merupakan wilayah laut. Pemerintah perlu makin meningkatkan kebijakan yang berpihak pada pengembangan potensi pesisir dan laut sehingga sektor swasta mendapatkan kemudahan dalam berinvestasi yang dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat. Di sisi lain, generasi muda Bali dituntut memiliki orientasi budaya bahari secara mendalam agar dapat mengembangkan spirit kreatifitas berbasis keunggulan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar